Jumat, 09 Januari 2009

Mempromosikan Teh di Kedai Kopi


JAKARTA, JUMAT — Starbucks Coffee Indonesia pada 2009 melakukan kegiatan mempromosikan minuman teh. Menurut Manajer Komunikasi Yuvlinda Susanta, Kamis (9/1), pihaknya memang membidik resolusi sementara kalangan untuk makin melakukan hidup sehat. "Salah satunya, menurut mereka, adalah dengan minum teh," kata Yuvlinda saat bersama tim barista (pembuat minuman kopi khas Starbucks) bertandang ke kantor kompas.com.

Maka dari itulah, dalam kesempatan tersebut, Starbucks memperkenalkan dua racikan minuman teh terbaru, yakni vanilla black tea latte dan green tea latte. Minuman pertama, ucap Yuvlinda, merupakan campuran lima jenis teh hitam dari India, Sri Lanka, dan Kenya. Sementara itu, yang kedua merupakan minuman berbahan dasar teh hijau jenis matcha dari Jepang. Kedua minuman ini mulai tersedia di gerai Starbucks sejak Selasa (6/1).

Meski mempromosikan minuman teh, Yuvlinda mengatakan, pihaknya memang tetap mengutamakan kopi sebagai sajian kepada para konsumen. "Karena, kami memang punya keahlian di kopi," katanya.

Krisis Timur Tengah Tak Pengaruhi Harga Minyak




JAKARTA - Krisis yang terjadi di Timur Tengah tidak akan berpengaruh banyak terhadap harga minyak. Pasalnya, negara-negara Barat pun sebenarnya memiliki cadangan minyak.

"Kalau lihat situasinya tidak berbahaya. Sekarang negara-negara Barat punya cadangan minyak dan seluruh negara juga punya cadangan, sehingga krisis di Timteng tidak ada pengaruhnya," kata Komisaris Pertamina Meizar Rahman, saat ditemui usai salat Jumat di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (9/1/2009).

Berdasarkan pengalaman selama ini, naiknya harga minyak hingga USD147 per barel bukan karena faktor geopolitik, tetapi karena alasan lainnya.

"Pengalaman selama ini kenaikan harga sampai di atas USD100 per barel bukan karena kondisi geopolitik, tetapi karena hal lain. 2007 hingga 2008 walau ada faktor geopolitik tapi harga minyak hanya sekira USD60-70 per barel," jelasnya.

Walaupun faktor geopolitik menimbulkan pengaruh terhadap harga minyak, tetapi menurutnya pengaruhnya sedikit saja. (ade)

Wapres: Harga Minyak Pasti Turun, Tapi Tergantung 3 Hal



JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla memastikan harga BBM dimungkinkan turun. Namun, masih tergantung tiga hal.

"Insya Allah, saya tidak bisa mengatakan pasti," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla, kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (9/1/2009).

Tiga hal yang mempengaruhi harga BBM yakni, harga internasional, kurs rupiah, dan subsidi yang tersedia di APBN.

"Boleh saja harga sama, tetapi kurs berbeda. Dahulu Rp9.200, sekarang sekitar Rp11.000. Kalau dirupiahkan jadinya akan beda dan subsidi. Jika dilihat dari sisi APBN, dahulu subsidinya mencapai Rp160 triliun, sekarang saja kurang lebih hanya Rp80 triliun," paparnya.

Perbedaan kondisi itulah, menurut Kalla, yang tidak bisa dijadikan dasar penghitungan dari tahun ke tahun. Kendati harga minyak USD50 per barel namun, juga harus dilihat dari nilai tukar yang berlaku saat ini.

"Penghitungannya USD50 dikali Rp9.200, beda dengan USD50 kali Rp11.000 kan? Kemudian juga berapa subsidinya, kalau subsidinya makin banyak harga BBM akan turun. Tapi pasti turun, cuma berapa besarannya tergantung tiga hal tadi," pungkasnya. (Farid Rusdi/Trijaya/rhs)

Pemerintah Siapkan Turunnya Harga BBM di Sidang Kabinet


JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan saat ini sedang menyiapkan kebijakan penurunan harga BBM untuk ketiga kalinya di dalam sidang kabinet.

"Kan kita review-nya tiap bulan. Terakhir penurunan tanggal 15 Desember. Hari Senin (12/1/2009) kita kan sidang kabinet, kita sedang menyiapkan itu. Kalau tarif angkutan dua kali turun, mestinya sudah turunlah dan kita mengharapkan turun," ujar Menkeu saat ditemui di gedung Departemen Keuangan, Jalan Dr Wahidin, Jakarta, Jumat (9/1/2009).

Turunnya harga BBM diharapkan diikuti turunnya inflasi, karena menurut Menkeu cocok dengan rencana pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat. Selain itu juga mengurangi beban cost production yang besar, sehingga perusahaan masih bisa survive.

"Masyarakat daya beli terjaga, sehingga ekonomi dari sisi konsumsi masih bisa jalan, produksi masih bisa survive, sehingga momentum ekonomi antara 4,5-5 persen yang selalu kita bicarakan bisa tercapai," pungkasnya. (ade)

Internet Berpotensi Ubah Kinerja Otak?


JAKARTA - Internet tidak hanya mampu mengubah cara hidup manusia, juga berpotensi mengubah cara kerja otak manusia. Ahli fungsi otak UCLA California, AS, Gary Small berpendapat, internet memicu perubahan evolusioner pada otak sehingga penguasa teknologi akan menempati posisi tertinggi dalam tatanan sosial baru.

Dalam sebuah penelitian, Small menemukan, orang yang banyak melakukan pencarian di internet dan banyak menggunakan SMS memiliki otak lebih tajam dalam menyaring informasi sehingga mampu membuat keputusan lebih tepat. Namun begitu, Small memperingatkan, pengguna internet terancam pula oleh kecanduan sehingga gagap ketika berinteraksi sosial offline. Small menemukan pula, jumlah penderita attention deficit disorder di dunia meningkat sejak kehadiran internet.

Karena itu, Small mengingatkan, orang yang fasih menggunakan internet harus mengimbangi kemampuannya itu dengan keterampilan sosial offline. Saat seseorang fasih menggunakan teknologi sekaligus berkomunikasi tatap muka, maka dia akan menjadi manusia unggul pada masa depan.

"Kami melihat perubahan evolusioner. Orang-orang generasi berikutnya akan lebih menghargai orang yang menguasai teknologi dan keterampilan komunikasi tatap muka," ujar Small.

Small menegaskan, kehadiran media komunikasi digital seperti e-mail, IM (instant messaging), dan SMS tidak akan bisa menggantikan komunikasi tatap muka. Sebab, komunikasi-komunikasi digital yang mengandalkan teks tersebut tidak bisa mengungkap ekspresi pengguna. Small menuangkan temuan- temuan penelitiannya dalam buku "iBrain: Surviving the Technological Alteration of the Modern Mind". (Sindo)

Senin, 29 Desember 2008

Masa Sulit untuk Komoditas di 2009


London - Harga-harga komoditas akan menghadapi masa-masa sulit akibat resesi yang akan membayangi perekonomian global di tahun 2009. Termasuk harga minyak yang akan terus mendapat tekanan di awal-awal tahun.

"Menghadapi tahun 2009, kami percaya bahwa beberapa harga komoditas akan melampaui penurunannya dalam merespons pelemahan aktivitas ekonomi yang paling buruk sejak era 'Great Depression'," ujar analis Deutsche Bank, Michael Lewis seperti dikutip dari AFP, Senin (29/12/2008).

Harga minyak mentah dunia akan menghadapi tekanan di awal-awal tahun, sebelum akhirnya akan mencapai stabilitasnya di tahun 2009. Harga minyak diprediksi masih akan menghadapi masa sulit setelah gejolak yang berlangsung di tahun 2008.

Seperti diketahui, harga minyak mentah bergerak sangat bergelombang di tahun 2008 ini. Harga minyak mengawali tahun 2008 di level US$ 95 per barel. Dan harga minyak untuk pertama kalinya menembus US$ 100 per barel pada 2 Januari 2008.

Berbagai pemicunya adalah gejolak di Nigeria yang merupakan salah satu produsen utama, serta masalah suplai di beberapa pasar kunci AS. Termasuk pula masalah volatilitas pergerakan dolar AS.

Harga terus meroket ke US$ 110,120,130 hingga rekor baru tercipta di US$ 147 per barel pada 11 Juli 2008. Pada saat itu, kontrak minyak jenis light menembus US$ 147,27 per barel, sementara kontrak London untuk minyak Brent menembus US4 147,50 per barel.

Namun setelah itu, harga meluncur tajam seiring krisis finansial global yang mengakibatkan resesi menjamur di berbagai belahan dunia. Harga minyak sempat mencapai titik terendahnya di bawah US$ 33 per barel.

Dan Pada penutupan perdagangan di New York Merchantile Exchange akhir pekan lalu, kontrak minyak Februari ditutup naik 2,36 dolar ke level US$ 37,71 per barel. Di London, minyak jenis Brent juga naik 1,76 dolar ke level US$ 38,37 per barel.

"Kami memperkirakan harga minyak di awal 2009 masih akan mendapatkan tekanan karena melemahnya proyeksi permintaan serta akibat pelemahan ekonomi dunia yang terus berlanjut," ujar Nimit Khamar, analis dari Sucden di London.

"Di akhir kuartal II-2009, kami memperkirakan harga akan stabil dan mencapai harga dasar, karena OPEC dapat menerapkan rencana penurunan produksi dan terus memangkas produksinya lebih lanjut," tambahnya.

Setelah harga minyak anjlok tajam, OPEC sudah menurunkan produksinya selama 3 kali yakni pada September, Oktober dan Desember. Namun nyatanya, harga tak bergerak bahkan terus meluncur ke bawah karena data-data yang semakin memperkuat melemahnya permintaan.

Dalam pertemuan terakhirnya, OPEC memutuskan menurunkan produksi hingga 2,2 juta barel atau yang terbesar dalam sejarah menjadi 24,85 juta barel.

Seiring proyeksi jatuhnya harga-harga komoditas, para ekonom juga mulai mengkhawatirkan munculnya deflasi. Jika itu terjadi, maka perekonomian dunia pun bisa semakin menderita, padahal masih harus menghadapi masalah ketatnya likuiditas.

"2008 akan menjadi salah satu tahun yang paling bergejolak dan sulit untuk minyak," ujar Peter Beutel, analis dari konsultan energi Cameron Hanover.

"Ini adalah sebuah tahun yang dimulai dengan melonjaknya harga minyak dan semuanya membuat inflasi terburuk dalam 3 dekade terakhir. Namun 2008 diakhiri dengan ledakan deflasi dan resesi terburuk dalam 7 dekade terakhir," imbuhnya.

Merrill Lynch memperkirakan harga minyak akan berada di kisaran US$ 50 per barel. Sementara Deutsche Bank memperkirakan harga berada di kisaran US$ 47,50 per barel, atau lebih rendah dari proyeksi semula US$ 60 per barel.

(qom/qom)

Konflik Israel-Hamas, Minyak Tembus Lagi US$ 40

London - Konflik Israel dan Hamas yang kembali memanas membuat harga minyak mentah dunia yang sempat redup kembali bergejolak. Harga minyak mentah kembali sampai ke level US$ 40 per barel.

Pada awal perdagangan Senin (29/12/2008) di InterContinental Exchange London, minyak jenis Brent North Sea pengiriman Februari melonjak hingga 3,53 dolar ke level US$ 41,90 per barel.

Sementara kontrak New York untuk minyak jenis Light Sweet pengiriman Februari melonjak 3,50 dolar ke level US$ 41,21 per barel.

Para pialang khawatir memanasnya konflik di jalur Gaza akan menyebar hingga ke wilayah-wilayah kaya minyak di Timur Tengah.

"Faktor geopolitik telah menghilang dari kancah perminyakan dalam beberapa bulan terakhir, namun akan mendapatkan lagi harga premiumnya dengan munculnya konflik di Gaza," ujar Olivier Jacob dari konsultan Petromatix dalam catatan risetnya, seperti dikutip dari Reuters.

Seperti diketahui, Israel kembali menyerang Hamas di Gaza. Sekitar 300 orang tewas akibat serangan Israel tersebut.

Tak hanya karena faktor politik, harga minyak juga kembali melonjak karena OPEC mulai merealisasikan keputusan pengurangan produksinya. Dalam pertemuan terakhirnya, OPEC memutuskan mengurangi produksi hingga 2,2 juta barel per hari per 1 Januari 2009.

Tak hanya harga minyak, harga emas pun ikut melambung karena faktor geopolitik tersebut. Harga emas tercatat naik lebih dari 2%, yang merupakan terkuat sejak awal Oktober.

Dolar Ikut Terguncang

Tak hanya komoditas minyak dan emas, dolar AS juga ikut terguncang oleh konflik di Gaza. Pada awal perdagangan di London, dolar merosot tajam atas euro dan yen.

Euro diperdagangkan menguat hingga 1,4278 dolar, dibandingkan sebelumnya di level 1,4025 dolar. Sementara terhadap yen, dolar AS juga melemah ke level 90,44 yen, dari sebelumnya di 90,78 yen.

Dolar AS memang kerap kali menghadapi tekanan jika Timur Tengah menghadapi konflik.

"Perkembangan di timur Tengah sepertinya akan tetap membuat euro menguat paling tidak dalam satu atau dua hari," ujar Yuji Saito, head of Forex dari Societe Generale seperti dikutip dari AFP.

(qom/qom)